Perkuat Kurikulum dan Riset, Prodi S1 Teknologi Pendidikan UNESA Kampus 5 Hadirkan Akademisi University of Manchester
Surabaya, 09 Juli 2026 Program
Studi S1 Teknologi Pendidikan UNESA Kampus 5 menyelenggarakan International
Focus Group Discussion bertema Artificial Intelligence in Education pada
Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 13.00–15.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Shreena
Joshi Pradhan, Ph.D., akademisi dari The University of Manchester, United
Kingdom, sebagai narasumber utama. Forum tersebut menjadi ruang akademik untuk
membahas perkembangan kecerdasan artifisial dalam pendidikan, relevansinya
terhadap kurikulum Teknologi Pendidikan, serta peluang pengembangan riset
bersama.
Diskusi berlangsung dalam suasana intensif
dan partisipatif. Dosen serta mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 tidak hanya
menyimak pemaparan narasumber, tetapi juga terlibat dalam pertukaran gagasan
mengenai perubahan praktik pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi
berbasis AI. Pembahasan diarahkan pada cara institusi pendidikan merespons
perubahan tersebut secara kritis, bukan semata-mata dengan mengadopsi
teknologi, melainkan dengan memahami implikasi pedagogis, etis, dan
akademiknya.
Salah satu fokus utama dalam FGD adalah generative
artificial intelligence in education. Teknologi generatif membuka
peluang baru dalam perancangan materi, penyediaan umpan balik, personalisasi
pembelajaran, pengembangan media, serta dukungan terhadap aktivitas akademik.
Namun, pemanfaatannya juga menimbulkan pertanyaan penting mengenai validitas
informasi, orisinalitas karya, perlindungan data, bias algoritma, dan perubahan
peran dosen maupun mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Melalui forum ini, AI ditempatkan bukan
sebagai pengganti pendidik, melainkan sebagai teknologi yang perlu digunakan
secara terarah dan bertanggung jawab. Penguasaan perangkat digital perlu
berjalan seiring dengan literasi kritis agar mahasiswa mampu menilai kualitas
keluaran AI, memeriksa sumber informasi, serta mempertanggungjawabkan proses
akademik yang dilakukan. Perspektif tersebut sangat relevan bagi Teknologi
Pendidikan, yang tidak hanya mempelajari penggunaan perangkat, tetapi juga
merancang sistem, strategi, media, dan lingkungan belajar berdasarkan tujuan
pendidikan.
Agenda berikutnya berkaitan dengan curriculum review. Perubahan teknologi menuntut kurikulum perguruan tinggi untuk terus diperiksa dari sisi relevansi, keluasan kompetensi, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat. FGD ini membuka kesempatan bagi Prodi S1 Teknologi Pendidikan untuk menelaah kembali posisi kecerdasan artifisial dalam struktur pembelajaran, baik sebagai objek kajian, alat pendukung belajar, maupun konteks profesional yang kelak dihadapi lulusan.
Pembahasan kurikulum tidak diarahkan pada
penambahan materi teknologi secara sporadis. Hal yang lebih penting adalah
memastikan mahasiswa mengembangkan kompetensi yang utuh, mencakup kemampuan
merancang pembelajaran, menghasilkan media, mengelola informasi, membaca data,
melakukan penelitian, serta mengambil keputusan yang etis. Dengan demikian,
integrasi AI dalam kurikulum tetap berpijak pada fondasi keilmuan Teknologi
Pendidikan dan kebutuhan pembelajaran yang nyata.
FGD juga membicarakan kemungkinan joint
research antara sivitas akademika UNESA dan jejaring internasional.
Perbedaan konteks pendidikan antara Indonesia dan Inggris menawarkan ruang yang
kaya untuk kajian komparatif, terutama mengenai adopsi AI, kesiapan dosen dan
mahasiswa, literasi digital, desain pembelajaran, serta kebijakan akademik.
Kolaborasi riset lintas negara dapat menghasilkan pemahaman yang lebih luas
sekaligus mendorong publikasi ilmiah yang memiliki relevansi global.
Kehadiran akademisi dari The University of
Manchester yakni Shreena Joshi Pradhan, Ph.D memberikan nilai penting bagi
penguatan atmosfer keilmuan di UNESA Kampus 5. Mahasiswa dan dosen memperoleh
kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber internasional,
membandingkan praktik pendidikan, dan melihat perkembangan AI dari perspektif
yang lebih luas. Pertemuan semacam ini turut menumbuhkan budaya akademik yang
terbuka terhadap perbedaan pemikiran, argumentasi berbasis bukti, dan kerja
sama lintas institusi.
Kegiatan ini mempertegas bahwa internasionalisasi tidak berhenti pada kehadiran narasumber dari luar negeri. Nilai utamanya terletak pada proses pertukaran pengetahuan, evaluasi diri, dan lahirnya agenda tindak lanjut yang dapat memperkuat pembelajaran maupun penelitian. Hasil diskusi diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum, penyusunan kebijakan penggunaan AI secara etis, dan perancangan kegiatan kolaboratif pada masa mendatang.
Kegiatan ini juga memberikan kontribusi
terhadap SDG 4: Quality Education melalui penguatan kualitas
kurikulum, literasi AI, dan kapasitas akademik sivitas. Pembahasan inovasi
berbasis kecerdasan artifisial juga berkaitan dengan SDG 9: Industry,
Innovation and Infrastructure, khususnya dalam mendorong pemanfaatan
teknologi secara inovatif untuk kepentingan pendidikan. Sementara itu, agenda
riset bersama dan pertukaran pengetahuan internasional memperkuat SDG 17:
Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kemitraan
dalam menghasilkan perubahan berkelanjutan.
Melalui FGD
internasional ini, Prodi S1 Teknologi Pendidikan UNESA Kampus 5 meneguhkan
komitmennya untuk mengembangkan pendidikan yang responsif terhadap perubahan
teknologi, tetapi tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan integritas akademik.
Kecerdasan artifisial diharapkan dapat menjadi bagian dari inovasi pendidikan
yang memperluas kesempatan belajar, meningkatkan mutu pembelajaran, dan
mendorong lahirnya penelitian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.